Tragedi Sepakbola Yang Takkan Terlupakan Sepanjang Zaman

Tragedi Sepakbola Yang Takkan Terlupakan Sepanjang Zaman

Dunia sepakbola ternyata tidak hanya berhubungan dengan hal-hal menyenangkan. Ternyata, ada juga hal-hal yang tidak mengenakkan juga. Berikut beberapa tragedi di dalam dunia sepakbola yang tidak akan terlupakan bagi pecinta sepakbola. Tragedi ini bisa menjadi pembelajaran agar dalam sepakbola hanya ada sportivitas saja, bukan tragedi.

  1. Tragedi Hillsborough

Bagi Anda fans Liverpool, Anda tidak boleh hanya tahu siapa saja pemain legendaris Liverpool. Anda juga harus tahu tentang tragedi di mana beberapa fans Liverpool tewas. Tragedy Hillsborough namanya. Tragedi tersebut terjadi pada tahun 1989. Pada waktu itu, Liverpool meladeni Nottingham Forest dalam pertandingan semi final Piala FA.

Tragedi ini tercatat sebagai tragedi yang menelan korban terpanjang sepanjang sejarah sepakbola di Britania Raya. Total korban meninggal adalah 96 jiwa dan semuanya pendukung Liverpool.

Setelah kejadian tersebut, federasi sepakbola Inggris melakukan perombakan total, berupa membuat peraturan baru tentang standard keamanan stadion. Hal ini dikarenakan usut punya usut Tragedy Hillsborough ini dikarenakan kurangnya keamanan yang dilakukano oleh polisi serta tembok penghalang antar supporter kedua kesebelasan yang kurang besar.

  1. Tragedi Stadion Lima

Tragedi ini bukanlah kerusuhan antar supporter walaupun pada awalnya kerusuhan yang memicu terjadinya tragedi ini. Kejadian yang kurang baik di dunia sepakbola ini terjadi pada tahun 1964 di Lima Football Stadium. Itulah mengapa tragedi ini dinamakan Tragedi Stadion Lima.

Pada waktu itu, digelar pertandingan Argentina melawan Peru. Awalnya, Argentina unggul lebih dulu. Namun, Peru berhasil membuat gol penyeimbang. Kerusuhan mulai terjadi ketika wasit menganulir gol penyeimbang tersebut.

Karena pihak keamanan tidak ingin kerusuhan semakin parah, akhirnya polisi mencoba membubarkan supporter. Dengan segala upaya, termasuk menembahkan gas air mata, akhirnya supporter tidak masuk ke lapangan.

Sayangnya, tindakan keamanan tersebut membuat penonton panik. Mereka mencoba keluar dari stadion karena sudah tidak tahan dengan gas air mata. Namun, pintu keluar stadion terkunci. Akhirnya, penonton berdesak-desakan. Tercatat, 328 penonton tewas.

  1. Tragedi Heysel

Nampaknya Liverpool menjadi salah satu klub yang sering mengalami tragedi. Kali ini, Tragedi Heysel melibatkan fans Liverpool dengan fans Juventus. Ini terjadi pada tahun 1985 ketika dihelat pertandingan babak final Piala Eropa antara Liverpool kontra Juventus. Seperti biasa, kedua supporter kesebelasan terlibat adut mulut. Kemudian, tembok pembatas antara kedua supporter kesebelasan jebol. Terjadilah perkelahian yang tak terhindarkan.

Dalam kerusuhan ini, 39 korban tewas. Fans Juventus menjadi korban terbanyak dibandingkan fans Liverpool.

Meskipun demikian, pertandingan tetap digelar sampai akhirnya klub Juventus muncul sebagai pemenang pada pertandingan tersebut di mana satu-satunya gol dicetak oleh Michel Platini.

Akankah tragedi semacam itu terjadi lagi pada saat ini? Sistem keamanan bisa saja sudah diperbaiki. Namun, jika para fans tidak dewasa dalam menyikapi apa yang terjadi di lapangan, bukan berarti tragedi yang sama akan terjadi. Tentu saja bukan hanya fans dan pihak keamanan yang disalahkan jika terjadi kerusuhan. Pemicu atau hal-hal yang menjadi alasan terjadinya kerusuhan harus dihindari. Wasit harus adil dalam memimpin pertandingan dan semua pemain harus mempu menyajikan permainan terbaik mereka tanpa memprovokasi pemain atau supporter untuk berbuat rusuh. Jika semuanya berjalan sesuai dengan semboyan sepakbola yang supportive, tentu tragedi seperti di atas tidak akan terjadi. Sepakbola harusnya menjadi olahraga yang menghibur, bukan justru menelan banyak korban meninggal dunia.